Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Hashtag Di Rumah Aja Bukan Ajang Indonesia Rebahan

Hastag di rumah aja (#dirumahaja) bukanlah sinyal harus memperpanjang waktu rebahan sampai terbenamnya matahari. Ini bukanlah ajang Indonesia Rebahan atau Indonesia Kasuran yang membolehkan kita bermalas-malasan. Apalagi bekas guratan bantal terlihat jelas di pipi kiri dan kanan. Menonton acara hiburan  televis, youtube, seharian menghabiskan waktu membaca postingan status di sosial media, atau chattingan tanpa mengenal matahari terbit dan terbenam, tiba-tiba saja ibu kita memberikan isyarat makan malam. Sangatlah tragis jika kehidupan selama di rumah hanya begitu saja.

Nah begitulah kira-kira uangkapan yang akan keluar dari mulut saya jika ada orang yang sedang menikmati berkahnya hashtag dirumahaja (#dirumahaja) tetapi malah berebut menjadi finalis Indonesia Rebahan.

Hari ini, saya menyambut pagi dengan segelas rebusan rempah berisi campuran kunyit, jahe dan kayu manis. Minuman ini sering saya konsumsi karena menurut pakar herbalis Indonesia yaitu dr. zaidul Akbar, rempah sangat lah bagus untuk merawat organ tubuh dan menjaga kesembangan hormone. Dan kalimat yang paling sering diulang dalam setiap penyampaian materinya yang saya nonton via youtube adalah jika ingin sehat maka perbaiki isi piring anda.

Apalagi Indonesia memiliki beraneka ragam warisan rempah seperti kunyit, jahe, temulawak, kayu manis, lada dan masih banyak lagi. Sangat disayangkan jika kita tidak memanfaatkan dengan baik malah kita lebih suka menggantikannya dengan minuman berpengawet, berperisa dan dalam jangka panjang akan mempengaruhi kesehatan kita.

Dari pengalaman saya selama beberapa bulan terakhir mengonsumsi rempah, badan lebih terasa segar, tidak mudah ngantuk dan tidak mudah capek, selain itu dimalam hari tidur lebih nyenyak. Walaupun dari segi rasanya mungkin kalah dengan minuman suplemen lainnya, tetapi dari segi kesehatan dan perawatan tubuh jangka panjang ini lebih bagus.

Nah sebenarnya zaman neneknya saya, minuman rempah sangat digemari oleh masyarakat, begitulah  ayah saya menceritakan bagaimana minuman rempah menjadi primadona bagi setiap orang. Bukan hanya ditujukan kepada orang sakit saja seperti anggapan kebanyakan orang zaman sekarang. Rempah dianggap bagian dari makanan dan minuman sehari-hari atau bisa dikatakan sebagai suplemen makanan.

Almarhum kakek buyut juga saya juga angat akrab dengan minuman rempah seperti rebusan pendang, rebusan temulawak  dan sebagainya. Dengan demikian mampu menambah tenaga saat bekerja di kebun atau ditambak ikan. Begitu juga kebiasaan almarhumah nenek saya misalnya, saya sering melihat kebiasaan rutin nyirih (makan daun sirih ditambah kapur dan pinang) setiap kali hendak makan, bahkan jika ada tamu yang datang sebelum disuguhkan nasi atau makanan yang lain, yang menjadi pembuka makan adalah sirih. Dan hari ini kebiasaan ini dianggap kuno atau ketinggalan zaman, kita lebih suka dengan aneka makanan berpengawet dan berperisa.

Kehidupan mengawali hari dengan meminum rempah sampai nyirih sudah sangat jarang dilakukan oleh masyarakat modern sekarang. Kita lebih diarahkan untuk menikmati minuman atau makanan yang siap saji. Dan bukan rahasia umum lagi  kebiasaan kita sekarang ini bedampak buruk bagi kesehatan,seperti merebaknya penyakit kanker, diabetes, hipertensi dan masih banyak lagi.

Rutinitas yang kedua yang hampir tiap hari saya lakukan adalah memasak dengan aneka kreasi  tempe, ikan dan telur juga terkadang beberapa olahan sayuran yang diracik dengan tambahan rempah seperti lada, ketumbar, kemiri, bawang putih, bawang merah, jeruk nipis, beberapa cabai dan sampai dengan penggunaan biji kemiri. Dengan membiasakan memasak sendiri, saya berusaha menyajikan sarapan yang sehat dan hiegenis.

Nah, memasak sendiri bukan berarti saya tidak menghormati masakan ibu saya,dan tidak sepenuhnya sarapan pagi saya siapkan sendiri bisa dikatakan saya Cuma menambah 1-2 menu.   Disisi lain ini menjadi ajang    melatih diri untuk mandiri dan juga tentunya untuk menyalurkan kreativitas di dapur. Beberapa teknik memotong digabungkan dengan alunan kecepatan pisau menambah syahdunya bersuka ria di dapur.

Kedua rutinitas yang sering saya praktekan beberapa tahun terakhir, membawa perubahan besar dalam kehidupan saya. Selaian makanan yang lebih sehat dan bersih (walaupun saya tidak memungkiri bahwa kebiasaan memasak sehat dan higienis tanpa penambahan penguat rasa juga diwarisi dari tradisi ibu saya di dapur) ada semacam kepuasan dan rasa kebahagian yang saya dapatkan.

Rutinitas diatas juga menjadi salah satu ruang dialog dengan diri saya sendiri, banyak ide dan penyelesain masalah saya tuntaskan di dapur, menyesuaikan strategi yang telah diatur pada malamnya juga saya lakukan di dapur. Di sini saya mendapat tempat merenung yang tidak saya dapatkan di sekolah bahkan di universitas. Kerap kali perbincangan di malam hari bersama teman hasil dari olah fikir di dapur. Jadi bagi saya dapur bukan sekedar tempat mengalah makanan  tetapi juga tempat mengolah ide.

Tentunya memasak sambil merenung tidak bisa dilakukan dengan buru-buru, ada ritme tersendiri yang harus di ikuti bagi sebagian orang itu terlalu lama, karena hanya melihat bahwa saya sedang memasak, padahal memasak yang saya tekuni adalah perpaduan dari penyaluran kreativitas pagi, penyajian makanan sehat dan ruang dialog/perenungan. Jadi sudah barang tentu selesai melakukan rutinitas ini, saya mendapati diri saya lebih energik, percaya diri dan merasa diberikan oleh Tuhan anugerah yang besar dengan ide-ide positif yang saya dapatkan.

Oleh karena itu, dengan adanya waktu lebih banyak di rumah, tidak salah jika kita meluangkan waktu untuk melakukan dua rutnias diatas, yaitu merebus rempah dan memasak tanpa pengawet. Jika dilakukan dengan baik, menikmati proses memasak, sambil olah fikir dan olahrasa, saya yakin bahwa hari-hari kita akan indah dan tidak membosankan. Tumpahkan segala imajinasi tentang makanan yang akan disajikan, toh akhirnya kita juga yang akan memakannya, bukanlah suatu masalah yang besar dengan rasa yang terkadang membuat cenat-cenut, dahi mengerut bahkan dalam kasus yang lebih parah saya harus bolak-balik ke toilet hanya untuk memastikan setelah ini perut saya akan kembali normal  setelah menyantap hasil imajinasi bak tendangan Captain  Tsubasa.

Dengan demikian, ajang Indonesia Rebahan resmi kita bubarkan, semoga dua rutinitas diatas bisa menginspirasi  anda semua.

Tulisan ini sudah tayang di Acehtrend



FURQAN
FURQAN Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Hashtag Di Rumah Aja Bukan Ajang Indonesia Rebahan"