Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peluang dan Tantangan Generasi Milenial dalam Menyonsong SDGs 2030

Sumber gambar Ied.eu


Abstrak

Penulisan ini bertujuan untuk menemukan peluang dan tantangan generasi milenial dalam menyonsong SDGs 2030.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model pengumpulan data wawancara dan studi literature.Hasil penelitian literatur ini menyimpulkan bahwa 1).Seluruh kebijakan ekonomi harus terintegrasi dengan sistem alam dan social demi terwujudnya SDGs.2).Salah satu tantangan terbesar dalam mengimplementasikan SDGs adalah kekuatan financial bagaiamana tidak  disatu sisi pemerintah harus memenuhi kewajiban jangka menengah di sisi lain pemerintah harus menginvestasikan dananya untuk keberlangsungan masa depan.Oleh karena itu partisipasi semua pihak sangat dibutuhkan.3).Penerapan state contingent debt instrument dan debt-for-climate-swap diharapkan bisa membantu kemampuan fiscal setiap Negara dan juga tentunya demi masa depan umat manusia.4).Peluang dengan adanya potensi zakat dan sumbanagn keagamaan lain dan juga kehadiran SDG Country Platform menjadi solusi terbaik untuk menutupi defisit anggaran dalam mewujudkan 17 agenda SDGs.

Kata kunci :SDGs

 

Latar belakang

Generasi milenial adalah generasi yang lahir sekitaran tahun 1980 sampai akhir tahun 2000.[1]Dalam masa ini studi ekonomi dan lingkungan mulai muncul kepermukaan dan mencoba memberikan solusi dari permasalahn yang ada.Permasalahan seperti banyaknya kerusakan lingkungan dan menurunya kesehatan social menjadi salah satu perhatian besar masyarakat dunia saat ini. Tidak bisa dipungkiri kehadiran generasi milenial diharapkan mampu memberi solusi dan menerapkan sistem ekonomi yang sustainable (berkelanjutan) dimana aktivitas ekonomi tidak merusak lingkungan dan sosial tetapi ketiganya bisa terintegrasi sehingga well-being (kesejahteraan) bisa terwujud diseluruh dunia.

Ada tiga aspek yang ingin dijaga tetap sustain,yaitu [2]:

1.Mempertahankan  pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang

2.Mencapai keadilan antar generasi dalam  penggunaan sumberdaya alam

3.Membatasi sejauh mungkin peningkatan polusi untuk mempertahankan kualitas lingkungan

Tulisan ini berisi uraian Agenda Sustainable Development Goals (SDGs),hubungan ekonomi dan lingkungan ,serta tantangan dan peluang dalam mewujudkan agenda SDGs di tahun 2030.

 

A.Agenda SDGs

Aktivitas ekonomi selama abad 16 sampai abad ke 19 telah terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi sebanyak 5 kali lipat dan mencapai puncaknya pada abad ke-20 sekitar  20 kali lipat. Percepatan pertumbuhan ekonomi ini tentunya membawa dampak positif bagi kehidupan manusia,seperti penurunan setengah dari masyarakat yang hidup digaris kemiskinan dengan pendapatan kurang dari 1,25 $ per hari dan lebih dari 700 juta manusia berpindah ke kelas menengah. Menurut  OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)  petumbuhan kelas menengah (middle class) mencapai dua kali lipat pada tahun 2020 dan 3 kali lipat pada tahun 2030.[3]

Tetapi sayangnya peningkatan aktivitas ekonomi malah berefek negatif bagi sistem alam dan pada akhirnya manusia juga yang akan menerima konsekuensi dari aktivitas ekonomi tanpa memperhatikan alam ini.

Ilmuwan menyimpulkan bahwa kita sebenarnya sedang memasuki masa dimana belum pernah terjadi sebelumnya yaitu perubahan sistem lingkungan.[4]Berikut data yang disajikan:

  1. Gas rumah kaca, telah mencapai level dimana belum pernah terjadi Selama 3 milyar tahun yang lalu.

  2. Keanekaragaman, sekitar 70% dari keberagaman genetik telah punah

  3. Deferostasi, tingkat deforestasi di Lembah Sungai Amazon meyebabkan  penurunan curah hujan regional sekitar 8% pada tahun 2050, dan akan memicu pergeseran menjadi wilayah savana dengan konsekuensi berefek pada sistem sirkulasi atmosfer

  4. Laut,susunan kimia di lautan berubah cepat dan belum pernah terjadi selama 300 juta tahun lalu.Ini akibat dari penyerapan 33% polusi gas rumah kaca dan hasilnya pengasaman dan peningkatan temperatur pada laut.Bukan hanya itu,ini juga berdampak pada koral dan stok ikan dimana belum pernah terjada pada masa sebelumnya.

  5. Lapisan es, Penurunan permukaan kutub dan gletser menjadi peringatan penting yang akan berakibat pada air  dan  sistem iklim. Ditambah lagi wilayah Artik merupakan wilayah yang paling cepat pemanasan di planet ini sehingga udara yang lebih hangat dan air yang dihasilkan oleh kutub utara mengganggu prediktabilitas of the gulf and jet stream dimana membantu untuk mengatur sistem sikulasi iklim bumi.

  6. Sirkulasi nitrogen dan fosfat yang dihasilkan fertlilizer/pendingin menyebar ke laut,sehingga berefek pada stok ikan dan membentuk dead zone sekitar 10 % dari wilayah laut

  7. Sirkuasi air, terjadinya kekurangan air bersih sekitar 30% dimana sangat berpegaruh pada aktivitas ekonomi global.


Oleh karena itu, pada bulan September tahun 2015,para pemimpin dunia menyelenggrakan  pertemuan dalam forum United Nations (UN), sebagai salah satu bentuk kelanjutan program MDGs (Millenium Development Goals) yang telah dilaksankan pada tahun 2000 sampai tahun 2015,dengan tema”Transformng Our World:the 2030 Agenda for Sustainable Development” dan menghasilkan 17 tujuan (goals) yang disebut Sustainable Development Goals akan diwujudkan bersama,yaitu:

1.No Poverty

2.Zero Hunger

3.Good health and well-being

4.Quality Education

5.Gender quality

6.Clean water and  sanitation

7.Affordable and clean  energy

8.Decent work and economic growth

9.Industry,Innovation and  infrastructure

10.Reduced Iniquality

11.Sustainable Cities and communities

12.Responsible consumption and  production

13.Climate Action

14.Live below water

15.Life on land

16.Peace,Juctice an dstrong Institution

17.Partnerships for the goals

Untuk menyukseskan 17 Agenda di tahun 2030,Ban Ki-moon (United Nations secretary-General)mengatakan perluya kerjasama semua sektor baik dari segi pembiyaan maupun berbagai inovasi produk.

” Sektor bisnis dan investasi adalah hal yang terpenting dalam  mencapai agenda SDGs di tahun 2030. Inovasi dari private sector akan menjadi kunci untuk menangani banyaknya tantangan yang saling berkaitan dari pembangunan global. Ini bukan hanya tetang apa yang dapat dilakukan oleh private sector tetapi juga tentang apa yang dapat diberikan oleh adanya sustainable development untuk private sector. Triulinan dolar dari dana private dan public sector diinvestasikan untuk mencapai SDGs, Menciptakan peluang yang besar untuk perusahaan yang siap bertanggungjawab untuk melaksanakan solusi yang telah kita sepakati. Ini adalah cara untuk mengakhiri kemiskinan, meningkatkan peluang dan meletakkan pondasi untuk pertumbuhan ekonomi global yang  berkelanjutan”. [5]

B.Hubungan Ekonomi dan Alam

Selama ini kita cenderung mengabaikan penjagaan alam dalam setiap aktivitas ekonomi, seperti penebangan hutan yang berlebihan, memproduksi dan membuang limbah yang sulit terurai (plastic) secara sembarangan, pemakaian benda kimia buatan dan sebagainya Akibatnya alam menjadi tercemar dan mengurangi kemampuannya untuk tetap sustainable.

Setidaknya ada tiga peran alam dalam aktivitas ekonomi manusia,yaitu[6]:

1.Faktor produksi meliputi ekstraksi dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui (nonrenewable resources) seperti biji besi, minyak fosil dan lainya, dan juga dari sumber daya alam yang dapat diperbarui (renewable resources)seperti berbagai jenis ikan, hasil pertanian, hasil hutan dan sebagainya.

2.Sebagai tempat pembuangan dan penguraian limbah

3.Penyedia fasilitas lingkungan yang dapat dinikmati seperti pemandangan burung, pantai, mendaki gunung dan lain sebagainya.

 

 

B.1.Thermodynamic Law

Selanjutnya alam memiliki dua prinsip/hukum yang harus kita ketahui,yaitu:

1.Prinsip konservasi energi (conservation of energy)“Suatu zat atau energy tidak bsa diciptakan maupun dihancurkan tetapi yang ada hanyalah transformasi atau perubahan” [7]

2.Prinsip Kualitas Energi (energy quality) setiap perubahan energy atau transformasi energy selalu dari energy yang sangat berguna menjadi energy yang tidak berguna.Untuk menjelaskan ini ahmed hussen menjelaskan secara detail dengan mengatakan, bahwa:

Energy can exist in number of different ‘state’. For example, light is a form of energy, as are various types of fossil fuels, wind, nuclear power sources (fuels), gun powder, and electricity, among others. Energy from fossil fuels can be converted to heat energy to boil water and produce steam that can turn a turbine to produce electricity, which in turn can be converted to incandescent energy to make lightbulb work or rotary motion to run an electricity motor. We may consider each of these forms of energy to be useful since they can be used to do work (turn a turbine,move an automobile) or provide light b which to see. The second law of thermodynamics states that each time useful energy is coverted or transformed from one state (or form) to another, there always is less useful energy available in the second state than there was in the first state”.[8]

 

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa:

a.alam mempunyai peran sangat besar dalam aktivitas ekonomi manusia,lalu ekonomi sebenarnya harus terintegrasi dengan alam agar setiap kegiatannya tidak merusak alam, dengan kata lain menyelamatkan lam berarti menyelamatnya peradaban manusia.

b.Energi yang dihasilkan oleh alam harus dipegunakan dengan bijaksana (wisely).

 

C.Tantangan dan Peluang

C.1.Tantangan

Utang

Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh Negara-negara berkembang dalam menerapkan SDGs. Implementasi SDGs memang membutuhkan biaya yang sangat besar, bagi bebetrapa Negara ini adalah persoalan yang berat,sebut saja Indonesia, dari total dana yang dipergunakan untuk membangun infrastruktur yang mendukukg SDGs hanya 40% berasal dari kas APBN,sisanya berasal dari pihak swasta[9]. Tanpa pengaturan fiscal yang baik,SDGs akan memperparah keadaan suatu Negara.

Deputi Direktur Pelaksana IMF Tao Zhang menyebutkan bahwa “40 persen dari Negara-negara berpendapatan rendah menghadapi risiko tinggi  utang atau tidak memiliki kemampuan membayar utang mereka sepenuhnya, yang merupakan peningkatan dari 21 persen lima tahun yang lalu. Selain itu, beberapa Negara yang berkembang juga semakin tertinggal dari sisi pendapatan perkapita yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kerapuhan (fragility) dan konflik-diantaranya adalah Negara-negara yang rentang seperti Haiti,R.D.Kongo dan Chad”[10]

Untuk mengatasi resiko dari pinjaman ini ada dua solusi yang bisa dilakukan,yaitu:

a.penggunaan state contingent debt instrument yang memberi kesempatan menunda atau mengurangi kewajiban membayar Negara jika terjadi krisis[11]

b.Penggunaan debt-for-climate-swap ini mengharsukan concenssional funders untuk membeli kembali surat hutangnya untuk membebaskan sumber daya untuk memerangi perubahan iklim dan membantu wilayah bencana akibat perubahan iklim.[12]

 

Rendahnya Penerimaan Pajak dan Dukungan Internasional

Rata-rata penerimaan pajak di Negara berkembang hanya 13% dari PDB,hal ini sangat logis dikarenakan sifat perekonomian yang informal dan tidak suka membayar pajak (tax avoidance).[13]

Ditambah lagi aliran dana bantuan pembangunan resmi atau Official Deveopment Assisstance/ODA yang dipergunakan untuk keadaan darurat belum terlalu maksimal.Dari segi pengumpulannya pada tahun 2017 hanya berkisar $146.6 milyar,setengah dari kesepakatan yaitu 0,7 persen dari total GDP.Sedangkan dari segi distribusinya baru menjangkau beberapa Negara miskin saja dan yang sangat mengkhawatirkan penggunaan ODA kebanyakan untuk tanggap darurat ketimbang untuk pengembangan SDGs,sehingga diharapkan Negara pendonor perlu meningkatkan dukungan mereka secara finansial.[14]

 

C.2.Peluang

Zakat

Muslim termasuk salah satu agama dengen jumlah terbesar di dunia. Dengan alokasi zakat untuk kepentingan SDGs seharusnya menjadi satu peluang untuk meningkatkan dana yang dibutuhkan pemerintah. Negara Indonesia misalnya, menurut Badan Zakat Nasional pada tahun 2015

mempunyai potensi zakat sebesar Rp.286 T tetapi hanya terkumpul sekitar Rp.3,6 T. Jadi jika kesadaran masyarakat untuk membayar zakat melalui lembaga zakat resmi diharapkan bisa dikelola dan bermanfaat untuk tercapainya SDGs.

 

SDG Country Platform

Pemerintah akan sangat diuntungkan dengan adanya platform ini.Setiap orang atau mitra yang ingin berkontribusi secara financial dapat dengan mudah mengirim donasinya. Dengan kata lain sekat antara pemerintah dan investor bisa dihilangkan.

UNDP (United Nations Development Programme) menyebutkan ada sembilan kunci utama untuk mewujudkan SDG Country Platform, yaitu[15]:

a.Ruang Kolaboratif: Melibatkan PBB,Pemerintah,sector swasta dan masyarakat di seluruh dunia

b.Kemitraan: Melibatkan sector perbankan, bisnis, pemerintah, dana keagamaan, filantropis dan investor, lembaga keuangan internasional dan masyarakat madani. Bentuk partisipasi meliputi penyelenggaraan kegiatan, penyediaan dana, bantuan staff, mitra investasi dan penyediaan tempat.

c.Menguji dan meningkatkan skala inovasi: melakukan uji coba solusi bar yang dapat direplikasi dan member saran pada investasi skala besar untuk memastikan pelakunya lebih berkelanjutan dan inklusif.

d.Memiliki jaringan: Melalui platform ini semua Negara dapat terhubung satu sama lain

e.Berfokus pada pembiayaan SDG: Merancang instrumen pembiayaan,menginformaskan investasi,mengembangkan dan member masukan kebijakan dan berbagi pengetahuan

f.Diposisikan untuk inovasi maksimal: Memposisikan platform di dalam dan di luar pemerintah berarti dapat memanfaatkan perubahan dan bebas berinovasi.

g.Pengembangan kapasitas: ketrampilan dalam platform meliputi pemikiran dan desain sistem, pegukuran dampak SDG, investasi swasta dan keuangan islam, solusi teknologi dan web.

i.Berkelanjutan: Perkiraan biaya tahunan sekitar 450.000-1.000.000 dolar AS.Model bisnis ini bergantung pada kombinasi hibah dan biaya untuk layanan.

j.Terintegrasi: UNDP Bertindak sebagai integrator dalam platform,mempertemukan para mitra dan pendekatan sistem yang luas terhadap SDG,memberikan ruang untuk inovasi dan menguatkan peran perwakilan di setiap Negara.

 

D.Kesimpulan

1.Seluruh kebijakan ekonomi harus terintegrasi dengan sistem alam dan social demi terwujudnya SDGs

2.Salah satu tantangan terbesar dalam mengimplementasikan SDGs adalah kekuatan financial bagaiamana tidak  disatu sisi pemerintah harus memenuhi kewajiban jangka menengah di sisi lain pemerintah harus menginvestasikan dananya untuk keberlangsungan masa depan.Oleh karena itu partisipasi semua pihak sangat dibutuhkan.

3.Penerapan state contingent debt instrument dan debt-for-climate-swap diharapkan bisa membantu kemampuan fiscal setiap Negara dan juga tentunya demi masa depan umat manusia

4.Peluang dengan adanya potensi zakat dan sumbanagn keagamaan lain dan juga kehadiran SDG Country Platform menjadi solusi terbaik untuk menutupi defisit anggaran dalam mewujudkan 17 agenda SDGs.

 

 

 

Referensi

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Milenial

[2] Patmawati Ibrahim dkk,”Sustainable Economic Development :Concept,Principle And Management From Islamic Perspective”

[3] Fourth Industrial Revolution for the Earth Series:Harnessing the Fourth Industrial Revolution for the Earth ,World Economic Forum,November 2017, Switzerland,p. 5

[4] Fourth Industrial Revolution for the Earth Series:Harnessing the Fourth Industrial Revolution for the Earth ,World Economic Forum,November 2017, Switzerland,p.6

[5] Our Planet :The Environmental  Dimension of the 2030 Agenda , United Nations Environment Programme,Nairobi Kenya 2016,p. 7

[6] Ahmed Hussen.( 2004)Principles of Environmental Economics,second edition,Taylor and Francis e-Library,hal 3

[7] Ahmed Hussen.( 2004)Principles of Environmental Economics,second edition,Taylor and Francis e-Library,hal 3

[8] [8] Ahmed Hussen.( 2004)Principles of Environmental Economics,second edition,Taylor and Francis e-Library,hal 26

[9] Biayai SDGs,Indonesia Andalkan”Blended Finance” 3 April 2018 Kompas.com  diakses pada tanggal 4 februari 2019

[10] Cris Lane dan Elliott Harris “Utang Sebagai Hambatan Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals)”dalam  IMFBlog (27 April 2018).hal.2

[11] Ibid.,hal 4

[12] Ibid.,hal 4

[13] Cris Lane dan Elliott Harris “Utang Sebagai Hambatan Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals)”,hal 2,dalam  IMFBlog (27 April 2018),

14] Ibid.,hal 2-3

[15] Francine Pickup,”Sembilan kunci untuk menciptakan SDG Country Platform di Indonesia” dimuat di www.id.undp.org
Furqan  Jamali
Furqan Jamali Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

1 komentar untuk "Peluang dan Tantangan Generasi Milenial dalam Menyonsong SDGs 2030"

  1. Tantangan generasi milenial juga terkait literasi teknologi. Sehingga kaum milenial bisa mengembangkan dan memanfaatkan dengan baik teknologi yang digunakan.

    BalasHapus

Berlangganan via Email