Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wisdom : Berfikir Cepat dan Bijak


Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan dua pelajaran hidup yang sangat beharga. Saya belajar tentang bagaimana seharusnya mengambil suatu keputusan yang bijak dalam dua kondisi yang berbeda. Mengorbankan sesuatu tidaklah berarti kita tidak memiliki perasaan justru itu adalah jalan untuk menyelamatkan sesuatu yang lebih beharga.

Sore itu hujan deras tanpa petir turun begitu saja sesampai saya dirumah. Awalnya saya tidak menyangka bahwa sore itu akan hujan selebat ini. Disinilah letak kesalahan pertama saya. 

Satu hal yang membuat saya sedikit risau, dua ekor indukan kambing beserta 2 ekor anakan kambing tidak saya masukan ke kandang. Alhasil sore itu pasti menjadi sore yang panjang bagi si kambing. 

Kambing memang sangat tidak suka dengan hujan, saya sering melihat ketika hujan turun segerombolan kambing dari bukit  yang berada dikebun saya langsung terbirit-birit memasuki kandang. 

Dua ekor indukan dan dua ekor anakan kambing itu saya ikat di pohon pinang dan satu lagi di batang pohon sirsak. Tujuannya supaya rumput disekitar pohon tersebut bersih, dan juga setiap kambing mengeluarkan kotoran dan urin akan menjadi pupuk pagi tanaman. Jadi semudah itu saya berkebun, kambingya sehat, dan tanaman juga berbuah lebat asalkan jangan diikat di pohon yang baru ditanam atau masih berukuran kecil, karena kambing akan memakan daun pohon tersebut.

Sepanjang sore sampai azan magrib saya menunggu hujan bisa segera reda. Pikiran saya mulai tak menentu, dan banyak pertanyaan muncul begitu saja, akibat terlalu khawatir dan sayang juga si kambing dan anak yang baru berusia 1 bulan itu dibasahi air hujan.

Saya mulai bertanya, apakah kambingnya akan basah kuyup? Atau hanya basah sedikit saja karena terlindungi oleh daun pinang dan sirsak. Apakah si anak kambing bakal baik-baik saja dan tidak kedinginan karena hujan? Dan yang saya khawatirkan adalah jika kambing terlalu lama dalam keadaan basah, ditakutkan akan sakit, bisa jadi demam dengan gejala pilek, mata berair dan mulai hilang nafsu makan, atau terkena tympani atau kembung, ini penyakit yang sampai saat ini yang mendapat rating tertinggi kematian di kandang saya. 

Setelah hujan agak reda saya dan ayah sepakat untuk segera kekebun, memindahkan kambing dan membuat api unggun supaya kambing tetap hangat. Terlebih 4 ekor kambing yang masih diikat di pohon pinang dan sirsak.

Saya dan ayah memakai jas hujan, dengan dilengkapi 2 buah senter kami menuju kekebun dengan motor kesayangan saya, Supra x 125.

Diperjalanan tetasan hujan masih terasa seukuran biji jagung, cukup terdengar bunyinya ketika menyentuh jas hujan dan body motor bagian depan. Saya terus saja melaju dan tak terlalu menggubris si hujan, karena malam itu bagi kami si kambing lebih diprioritaskan, jika memang harus bermandikan hujan, tidaklah mengapa, karena tekad kami sudah bulat.

Sesampai disana, alahamdulillah kami tida terlalu basah, bisa dikatakan 75 persen dalam keadaan kering. Si kambing langsung berteriak dengan keras, itu membuat saya sedikit lega, setidaknya dia masih terdengar cukup garang setelah diguyur hujan beberapa jam yang lalu. 

Lalu saya menghidupkan senter, si kambing yang saya ikat di pohon pinang  kelihatan tidak terlalu basah hanya bagian ekornya dan bulu bagian tulang belakang, lainnya masih kering, rupanya si kambing berlindung dibawah daun pohon pinang, cukup untuk melindungi badannya yang kecil itu.

Sedangkan anaknya dengan ekspresi kedinginan kelihatan basah hampir 50%, sedikit membuat saya takut, sambil berharap si anak kambing akan baik-baik saja.

Indukan dan anakan ini selanjutnya saya masukkan ke kandang khusus indukan yang baru melahirkan, supaya tidak diganggu oleh kambing lainnya, anakan yang masih kecil bisa  nyaman dan aman bersama induknya.

Selanjutnya indukan kambing yang  satu lagi beserta anaknya sedikit berbeda keadaannya, keduanya kelihatan hampir 60 persen basah  walaupun terlindungi oleh daun pinang dan sirsak. Dan yang mengejutkan anaknya yang bewarna hitam itu tampak masih segar bugar. Keduanya saya masukkan ke kandang koloni besar agar bisa dihangatkan dengan api unggun

Nah, disinilah masalah mulai muncul. Ayah saya rupanya lupa membawa korek api dari rumah,  sebagai solusinya kami mulai mencari korek di gubuk kecil berukuran 5 x 3 m itu. Ya karena semua perlengkapan berkebun mulai dari mesin pemotong kayu, mesin pemotong rumput sampai peralatan dapur kami simpan disitu. 

Kami berharap menemukan korek api, siapa tahu ada korek yang tersimpan yang tanpa sengaja dilupakan.

Setelah beberapa menit mencari, saya menemukan korek tanpa pematiknya. Hanya ada sisa gas cair didalamnya. Ayah mulai pasrah dan menganjurkan kita balik saja.

Bagaimana tidak tanpa korek api, tidak ada yang bisa dibakar, dan yang paling menyedihkan si kambing akan kedinginan tanpa api unggun sepanjang malam. 

Nah, saya mulai berfikir beberapa saat untuk mencari, dari mana pemantik api bisa didapatkan? Tiba-tiba saya teringat dengan kompor gas yang biasa dipakai memasak di kebun. Walaupun tidak ada lagi tabung gas nya tetapi di situ ada pemantik api. Jika kompor gas bisa dimanfaatkan sebagai pemantik api lalu korek sebagai penyedia gas maka pasti muncul api.

Saya mencoba puluhan kali, tetapi tidak kunjung muncul apinya. Mulai dari menyetel posisi korek agar dekat dengan pemantik api kompor sampai dengan mengubah posisi korek dari kiri ke kanan supaya api segera menyambar ke korek tadi.

Beberapa menit kemudian,  korek pun nyala dengan api yang stabil. Pertanyaan selanjutnya bagaimana membawa api dari rumah kecil tersebut menuju ke kandnag kambing yang berjajar 30 meter? Kontruksi korek dengan banyaknya bahan plastik tentu tidak bisa mentoleri panas dalam waktu lama. 

Untuk mengatasinya saya mencoba mencari sesuatu yang bisa dibakar dan apinya tahan lama. Saya menemukan kotak pembungkus obat nyamuk, segera saya gulung sebesar jempol lalu saya bakar dengan segera, sebelumnya saya olesi Pertamax dibagian ujung supaya cepat dimakan api berhubung kotak tersebut sedikit lembab.

Akhirnya api menyala dengan baik, lalu kami segera membawanya ke kandang kambing, dan mulailah kami membakar kayu yang sudah di tata dengan rapi. Kayu-kayu tersebut sebelumnya kita berikan sedikit Pertamax agar kayu terbakar dengan baik. 

Permasalahan selanjutnya muncul lagi, karena kayu juga dalam keadaan lembab, sangat sulit bagi api untuk tetap menyala. Sedangkan kami kehabisan pertamax.

Ayah saya memberikan pilihan, kita biarkan api mati dan kambing akan kedinginan sepanjang malam atau kita korbankan jerigen kecil tempat menyimpan Pertamax, supaya api bisa bertahan lama dan kayu bisa terbakar dengan sempurna.

Awalnya saya menolak karena saya ingin mencarikan cara yang lain, tetapi ayah saya tanpa berfikir panjang lagi, daripada api keburu mati,  langsung saja  jerigen kecil masuk ke tungku api supaya api tetap menyala. Akhirnya api menyala dengan baik, dan kambing bisa menikmati malamnya dengan hangatnya api unggun.

 

Pelajaran Yang sangat Berharga 

Dalam kondisi yang tidak menentu, mendung terkadang berarti hujan dan terkadang pula tidak. Seharusnya saya mengambil kesimpulan terburuk yaitu mendung berarti hujan, dengan demikian si kambing seharusnya dimasukkan ke kandang. Jika memang hujan, keputusan saya memasukkan ke kandang adalah benar, jika memang tidak hujan, keputusan saya memasukkan kambing ke kandang walaupun  salah, tetapi saya sudah membiasakan diri untuk memasukkan kambing di saat mendung, sehingga jika sewaktu-waktu kondisi mendung yang berujung hujan, kambing tidak akan basah. 

Ini sama halnya ketika kita ingin berpergian ketika cuaca sedang mendung. Membawa jas hujan bukanlah hal yang sangat merugikan, jika pun tidak hujan kita hanya rugi karena mantel hujan memakan space atau bagasi motor, tetapi yang sangat merugikan ketika kita salah menebak bahwa mendung ini tidak berarti hujan lalu hujan makna kita akan basah sepanjang jalan, ataupun bisa saja kita harus membatalkan perjalanan padahal sudah setengah jalan. 

Seandainya pun bersikukuh menerobos hujan, mulai dari handphone, pakaian, sepatu, sampai dengan peralatan belajar jika kita sedang ke kampus atau ke sekolah, akan basah dengan air hujan. Jadi terkadang mengambil kesimpulan terburuk tentang suatu kondisi akan sangat membantu kita dalam menghadapi masalah.

Sedangkan pada kasus yang kedua saya dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dalam hitungan detik saya harus segera mengambil keputusan, merelakan sebuah jerigen kecil agar apinya tetap menyala atau menjaga jerigen tetap utuh dengan konsekuensi api akan mati dan kambing akan kedinginan sepanjang malam. Kesigapan ayah saya dalam berfikir dan memberikan pilihan saat menghadapi situasi tertentu membuat saya berfikir bahwa dalam hidup ini kita jangan takut berkorban, kita terkadang  tidak bisa menjaga dua hal dalam waktu yang sama, terkadang untuk menyelamatkan sesuatu harus rela mengorbankan sesuatu. Jika tidak, kita tidak akan mendapatkan keduanya. Alih-alih ingin memiliki kedua hal dalam satu waktu tetapi kita malah kehilangan keduanya. Jadi mari kita berfikir bijak.

 

 

 


Furqan  Jamali
Furqan Jamali Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Wisdom : Berfikir Cepat dan Bijak"

Berlangganan via Email