Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Qur'an dan Toleransi Beragama


Bangsa Indonesia di anugerahi dengan berbagai macam suku,bahasa dan agama.Dalam kehidupan sehari-hari agama memiliki peran besar dalam menentukan sikap dan jalan hidup manusia keseluruhannya.Sehingga bukanlah hal yang tabu lagi,jika setiap permasalahan yang dibumbui agama akan  mendapat respon yang sangat cepat dari berbagai kalangan.

Dalam tulisan ini penulis akan menyajikan  pandangan Qur’an terhadap perbedaan beserta  cara menyikapinya dan lahkah apa yang bisa dilakukan pemuda untuk mengkampanyekan toleransi antar ummat beragama sehingga dapat terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

A.Perbedaan dan Cara Menyikapinya Menurut Al-Qur’an

Al-Quran menyebutkan beberapa ayat tentang kenapa adanya perbedaan,yaitu:

1.”Dan jikalau Tuhanmu menghendaki,tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”(QS.Yunus/10:99)

2.”Jikalau Tuhanmu menghendaki,tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu,tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka”.(QS.Hud/11:118-119)

3.”Dan kalau Allah menghendaki,niscaya Dia menjadikankamu satu umat (saja),tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”(QS:An-Nahl/16:93)

4.”Hai manusia,Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal.Sesungguhnya yang paling mulia di-antara kau disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS.Al-Hujarat/49:13)

 

Dari beberapa ayat yang dikutip penulis,sesungguhnya ini menggambarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa di ingkari oleh setiap muslim.Jika saja Allah menghendaki,Allah pasti mampu untuk menciptakan persamaan tanpa adanya perbedaan.Lalu kenapa kita saling berseteru?hal ini bisa terjadi karena kurangnya rasa saling menghormati sesama dan menganggap diri sendiri paling benar.Walaupun dalam konteks perbedaan akidah,rasa paling benar ini sangat di tekankan karena ini sebagai bukti keyakinan yang mendalam terhadap ajaran yang dianut  tetapi bukan berarti harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk merendahkan dan mengejek mereka yang berbeda,Sehingga Al-Qur’an sendiri memberi  penegasan tetang bagaimana menyikapi perbedaan akidah tapa harus berujung pada sikap intoleran.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka,kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka,lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”(QS.Al-An’Am/6:108)

Bahkan AL-Qur’an sendiri memberi kebebasan untuk beragama dan melarang penggunaan kekerasan dalam mengajak pada kebenaran yang kita yakini.

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku” (Qs.Al-Kafirun /109:06)

“Tidak ada paksaan dalam (memasuki)agama (Islam),sesungguhnya telah jelas (perbedaan)antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.barangsiapayang inkar kepada thagut dan beriman kepada aAllah,maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus,dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS.Albaqarah/2:256).

 

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,menjadi saksi yang adil.Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Dan berlaku adillah,karena adil itu lebih dekat kepada takwa.dan bertakwalah kepada Allah,Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS.Al-Maidah/5:8)

 

 

Nah toleransi beragama yang ingin penulis sampaikan diatas bukan suatu paham untuk menganggap bahwa semua agama itu benarr ( sinkretisme ) dan manusia bertugas mencari ttitk keseimbangan atau kesesuain antar agama sehingga melahirkan agama baru [1],tetapi hanya pada tataran mu’amalah (al-Infitah/sisi inklusif) seperti bergaul,transaksi dan seterusnya,bukan pada tataran akidah (al-inghilaq/sisi eksklusif) seperti yang dilakukan aliran filsafat sinkretisme[2].

 

 

.

 

 

B.Peran Pemuda

Setelah kita memahami  bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa dihilangkan melainkan harus tetap dijaga titik keseimbangannya/kedamaian antara pemeluk agama maupun antar berbagai aliran dalam satu agama (perbedaan pandangan dalam memahami agama).Kedatipun demikian ini bukan berarti penyampaian kebaikan atau kebenaran yang kita yakini harus dihentikan tetapi tetap dilakukan dengan cara yang baik tanpa pemaksaan.

 

Adapun upaya yang harus dilakukan untuk mengkampanyekan toleransi sebagai berikut:

1.Menghidupkan kajian keagamaan dengan menyajikan berbagai sudut pandang (comprehensive method/holistic method).Misalnya memahami perbedaan dalam perspektif Qur’an dan Sunnah diikuti juga dengan bagaimana pandangan perbedaan berdasarkan keimuan psikologi,neurologi dan social.Sehingga hasil kajian tersebut bukan saja berdasarkan pendekatan normatif tetapi diperkuat lagi oleh bukti empiris.

Pada dasarnya kegiatan kajian seperti ini juga akan mempengaruhi sisi emosional para peserta.Dale Carneagi salah satu psikolog ternama dunia dalam bukunya how to win friends and influence people mengatakan bahwa “we are creatures of emosional not creatures of logic”(kita adalah makhluk emosional bukan makhluk logika/rasional).

Dalam interaksi sehari-hari kita sering melihat dan merasakan bahwa satu tindakan yang dilakukan dengan bumbu kemarahan akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang memakai cara yang lemah-lembut walaupun yang disampaikannya benar tetapi respon si penerima berbeda.ini menjadi salah satu bukti bahwa pengendalian emosi diri sendiri akan mempengaruhi emosi lawan bicara dan kesediannya menerima informasi atau kebenaran dari kita.

Kajian tersebut harus dilakukan secara sistematis,terukur dan melibatkan berbagai unsur keagamaan dan aliran.Sehingga diharapkan mampu mencapai satu titik kesepakatan untuk menjaga sikap toleransi dalam beragama

 

 

2.Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukasi dengan semnagat kebersamaan

Kegiatan ini dilselenggarakan oleh peserta anggota telah terlibat terlebih dahulu dalam kegiatan kajian diatas.Salah satu tujuannya adalah sebagai salah satu sarana menguji sejauh mana sikap toleransi.meresap dalam sanubarinya karena jika terjadi permusihan/intoleran otomatis acaranya akan bubar.Cara ini telah diterapkan oleh para Gusdurian dalam membangun semangat toleran antar sesama.

 

Kesimpulan

Al-Qur’an telah menjelasakan kepada kita bahwa perbedaan adalah sunnatullah seperti yang disebutkan dalam surat Yunus/10:99,Hud/11:118-119,An-Nahl/16:93 dan Al-Hujarat/49:13.Sikap menghormati perbedaan harus dilakukan sebagai salah satu bukti keridhaan atas kehendak Allah (perbedaan) walaupun disisi lain dituntut untuk menyampaikan kebenaran,seperti yang digambarkan  Qur’an dalam surat Al-Kafirun /109:06,Albaqarah/2:256 dan Al-Maidah/5:8

Pemuda sebagai harapan terbesar agama dan Negara harus mampu menjalankan perannya untuk mengkampanyekan sikap toleran melalui mengaktifkan kajian keagamaan baik antar sesama aliran maupun lintas keagamaan dan bisa mengadakan berbagai macam kegiatan yang mampu memberikan  rasa saling memahami antar umat beragama.

 

 

 

Referensi

1.Al-Quran Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka,tangerang Selatan,Kalim:tidak ada tahun
2.Salma Mursyid,Konsep Toleransi (Al-Samahah) Antar umat beragama Perspektif Islam,Jurnal Aqlam,Volume 2,No 1,Desember 2016
3.Moh Abdul Kholiq Hasan,Merajut kerukunan dalam Keragaman Agama di Indonesia Perspektif Nilai-Nilai Al-Qur’an,IAIN Surakarta

[1] Salma Mursyid,Konsep Toleransi (Al-Samahah) Antar umat beragama Perspektif Islam,Jurnal Aqlam,Volume 2,No 1,Desember 2016

[2] Moh Abdul Kholiq Hasan,Merajut kerukunan dalam Keragaman Agama di Indonesia (perspektif Nilai-Nilai Al-Qur’an),IAIN Surakarta

 
Furqan  Jamali
Furqan Jamali Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Qur'an dan Toleransi Beragama"

Berlangganan via Email