Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Yuk Nabung Saham


Sosialisasi Yuk Nabung saham
Yuk Nabung Saham adalah sebuah program yang diluncurkan pertama kali oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Muhammad Jusuf Kalla di Main Hall Gedung Indonesia Stock Exchange pada tanggal 12 november 2015.Program ini bertujuan untuk mengkampanyekan Pasar modal ke masyarakat serta mengajak berinvestasi secara rutin.

Semenjak program ini diluncurkan pada tahun 2016,hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan tahun 2016,tingkat pemahaman (literasi) masyarakat Indonesia terhadap pasar modal naik menjadi 4.40% dan tingkat utilitas produk pasar modal naik menjadi 1.25% dari tahun sebelumnya dimana tingkat literasi pasar modal hanya 3,79% dan utilitas produk pasar modal 0,11%.Jumlah persentase ini sangat sedikit dibanding dengan tingkat literasi perbankan yang mencapai 28,94 pada tahun 2016.

Sebenarnya ini merupakan salah satu target pemerintah yang ingin dicapai dalam hal meningkatkan literasi dan inklusi keuangan yang dituangkan dalam Peraturan Presiden RI Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75 persen di tahun 2019. Pasar modal yang termasuk dalam enam industri jasa keuangan juga menjadi target pemerintah, terlebih lagi indeks literasi (pemahaman) dan inklusi (pemanfaatan/penggunaan) pasar modal berada di posisi keenam atau paling rendah.

Bahkan Indonesia dibanding dengan anggota ASEAN 5 (Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina) masih berada di urutan paling rendah. Menurut Kepala Ekonom Standard Chartered Aldian Taloputro yang dirilis oleh harnas.co 16 Januari 2017 mengatakan “Kalau kita lihat dari data Bank Indonesia (BI) rumah tangga yang memiliki account perbankan kurang dari 50 persen. Dengan era online banking, harapannya bisa lebih cepat karena orang di daerah sudah bisa menjangkau akses perbankan melalui teknologi,”

Nah,dalam tulisan kali ini saya akan berbagi kepada pembaca tentang pasar modal dan prospek berikut tips ringkas menjadi investor di pasar modal.Semoga bermanfaat.

Pasar Modal


Jika dilihat definisi Pasar modal berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995,Pasar Modal adalah adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan.Ringkasnya pasar modal adalah tempatnya perusahaan untuk mencari modal dengan berbagi kepemilikan kepada investor yang mau menanamkan modal di perusahaan tersebut.Nah,perusahaan yang telah berbagi kepemilikan kepada investor disebut sebagai perusahaan yang go public.

Setiap perusahaan yang go public atau selanjutnya kita menyebut emiten tentunya telah memperoleh izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) karena seluruh kegiatan yang berjalan di pasar modal akan diawasi oleh OJK untuk mencegah dan mengurangi kerugian konsumen,masyarakat dan sektor jasa keuangan.Untuk lebih detailnya bisa langsung dibaca di websitenya OJK mengenai fungsi dan tugas pokoknya.

Bagi tipikal investor yang hanya mau menempatkan dananya di perusahaan berkriteria syariah semenjak tanggal 3 Juli 2000 telah diluncurkan Jakarta Islamic Index dengan demikian para investor bisa memilih sendiri perusahaan berbasis syariah yang tersedia di JII (Jakarta Islamic Index).Tentunya setiap perusahaan yang tersedia di JII telah melewati uji seleksi sesuai dengan fatwa No.80/DSN-MUI /III/2011.

Alasan Kenapa Harus jadi Investor


Pertama, investor adalah pemilik.Saat ini jumlah penduduk Indonesia lebih kurang 270 juta jiwa sangat besar dibanding dengan jumlah investor domestic yang berkisar hanya 1,2 juta jiwa saja.Ini berarti mayoritas penduduk Indonesia adalah konsumen dari produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan yang sudah listing/tercatat di pasar modal.Padahal setiap hari kita menggunakan produk perusahaan yang go public tersebut.Misalnya dari bangun pagi sudah menggunakan pepsodent atau close up, sabun dan shampoo lifebouy diproduksi oleh Unilever (UNVR),beli mobil sama Astra Internasional (ASII),rokok mild produk dari Sampoerna (HMSP),makan indomie buatan Indofood (INDF)

Jalan tol yang digunakan dibangun oleh Wijaya Karya (WIKA) dan Waskita Karya (WSKT) tiang listrik dicetak oleh Wijaya Beton (WTON),apartemen dibangun oleh Agung Podomoro Land (APLN) dan masih banyak lagi. Beberapa contoh yang saya sebutkan hanya sebagian kecil perusahaan yang bergerak di sektor yang berbeda tetapi produknya sering kita pakai.

Singkatnya,memang kita tidak bisa terlepas dari produk-produk yang sudah listing di pasar modal. Sekarang apakah kita hanya ingin menjadi konsumen atau ingin menjadi investor sekaligus konsumen produk perusahaan sendiri,istilah kerennya “Beli sahamnya dan pakai produknya”

Kedua,Dengan menjadi investor berarti kita juga mempunyai hak atas laba operasi perusahaan tersebut. Dalam dunia investasi disebut deviden, laba yang dibagi perusahaan kepada investor per tiga bulan atau setahun sekali.

Perusahaan Total Bangun Persada dengan kode saham TOTL adalah perusahaan kontruksi swasta terbesar harga sahamnya paling rendah selama 4 tahun terakhir Rp. 500 ,per tanggal 2 maret 2018 harga perlembar saham Rp.710 ,deviden yang dibagikan kepada investor selalu meningkat dari tahun ke tahun misalnya dari tahun 2014: Rp.30/lembar saham ,tahun 2015:Rp.40/lembar saham dan di tahun 2016 :Rp.45/lembar saham.

Selanjutnya perusahaan Indofood Sukses Makmur dengan kode saham INDF harga sahamnya sahamnya paling rendah selama 4 tahun terakhir sekitar Rp.4000 ,per tanggal 2 maret 2018 harga perlembar saham Rp.7700, deviden yang dibagikan kepada investor pada tahun 2014: Rp. 220/lembar saham ,tahun 2015:Rp. 168/lembar saham dan di tahun 2016 :Rp. 235/lembar saham

Deviden ini nantinya bisa menjadi pasif income,seharusnya kita bisa rutin menginvestasikan sebagian tabungan di perusahaan yang bagus agar bisa menghabiskan masa tua tanpa pusing memikirkan tunjangan hari tua,ya setidaknya cukup untuk keperluan hidup sehari-hari.

Salah satu tokoh yang mulai berinvestasi semenjak kecil ialah Warrant Buffet,memulai investasi di umur 11 tahun dengan membeli 3 lembar saham preferen Perusahaan Utilitas Cities Service dan sekarang Buffet menduduki peringkat 3 orang terkaya di dunia versi majalah forbes 2015.

Berbeda dengan Warrent Buffet, Lo kheng Hong orang yang disebut-sebut Warrent Buffet-nya Indonesia malah baru menjadi investor di usia 30 tahun dengan membeli saham PT. Gajah Surya Multi Finance saat IPO.Sekarang total asset saham yang dimilikinya melebihi 2,5 Trilliun rupiah dan mengoleksi lebih dari 30 emiten yang bergerak di beberapa sektor.Lebih dari 24 tahun Lo Kheng Hong hidup dengan deviden saham bahkan deviden dalam satu tahun saja cukup untuk kebutuhan seumur hidup.

Selain mendapatkan deviden para investor juga memperoleh keuntungan lainya berupa capital gain,yaitu keuntungan dari harga beli lebih rendah dari harga jual,misalnya kita membeli saham INDF (Indofood Sukses Makmur) pada tahun 2015 di harga Rp.5000/lembar dan menjual pada harga Rp.7700/lembar,berarti memperoleh capital gain sebesar Rp.2700/lembar saham. Walaupun demikian investor jarang sekali mau menjual saham-saham perusahaan yang terbukti sangat konsisten dalam pertumbuhan kinerja dan pembagian deviden kepada investor.

Ketiga,Terhindar dari inflasi.Mungkin kita masih ingat pada tahun 2010 harga gula hanya berkisar Rp.7000 per kilo,sekarang di tahun 2018 harganya menembus Rp.13.000.Nah kenaikan harga barang ini disebut sebagai inflasi (penurunan nilai mata uang).Seandainya kita menabung uang dengan bunga yang ditawarkan bank 2,42% pertahun jika inflasi mencapai 5.5% berarti kita telah kehilangan uang sebesar 3.5% itu sama artinya Rp.1000.000 tahun ini sama dengan Rp.1.035.000 di tahun akan datang (setelah mengalami inflasi )

Agar terhindar dari inflasi berinvestasi adalah solusinya.Investasi bisa berupa membuka tabungan deposito,membuka usaha,membeli emas,kebun,ternak atau yang paling mudah berinvestasi saham.Menurut data yang direlease oleh Bursa Efek Indonesia tingkat keuntungan berinvestasi pada instrument berupa tabungan 2,42%, Deposito 6,46%,emas 7,76%,Obligasi 8,47% sedangkan saham 17,42%.Jadi tidak salahnya menempatkan sebagian dana yang kita punya untuk berinvesatasi saham.

Kekayaan Terbesar Ada Di Pasar Modal


Lo Kheng Hong melukiskan pasar modal sebagai harta karun. Harta karun kekayaan terbesar yang ada di dunia adanya di pasar modal,bukan di bawah laut.Nilainya nyata dan transparan. Sangat disayangkan bila ada orang yang tidak mengenal pasar modal”.

Bila dilihat lebih jauh ungkapan di atas bukanlah hasil khayalan para investor tetapi fakta yang jarang diketahui oleh orang pada umumnya. Bahkan dalam salah satu wawancara yang dilakukan oleh Dian Ihsan Siregar pada tanggal 22 Dec 2017 lalu,Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengatakan bahwa “Tahun ini saja, dana yang diperoleh dari rigths issue (perusahaan yang mengeluarkan saham baru) hampir Rp64 triliun, obligasi Rp154 triliun dari penerbitan obligasi korporasi 101 emisi.”

Selama tahun 2018, ada 37 perusahaan baru yang mendaftarkan diri untuk melepas saham di pasar modal dengan jumlah dana Rp.9.5 trilliun dan untuk tahun 2018 direncanakan 35 perusahaan akan melantai di pasar modal. Artinya jumlah perusahaan yang dapat kita miliki semakin banyak,sampai saat ini ada 608 perusahaan yang sudah terdaftar di pasar modal

Jelas ini merupakan tanda bahwa pasar modal menjadi salah satu sarana yang sangat menarik bagi perusahaan dalam memperkuat permodalan dan kinerja perusahaan.Peluang seperti ini sangat disayangkan jika kita abaikan begitu saja di tengah antusiasnya perusahaan mendapatkan modal dengan mengeluarkan saham dan obligasi.Sejauh ini kapitalisasi pasar modal bahkan sudah menembus angka Rp 7.372,07 triliun dan akan terus bertumbuh sejalan dengan membaiknya perekonomian kita.Nilai kekayaan sesungguhnya atas kepemilikan saham tidak hanya diukur dari harga pasar tetapi meliputi seluruh sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan semakin banyak sumber daya yang dimiliki maka semakin besar pula peluang peningkatan asset saham para investor.

Cara Masuk Pasar Modal


Untuk masuk ke pasar modal dan menjadi investor cukuplah mudah hanya dengan empat langkah berikut. Pertama,siapkan dokumen pribadi berupa KTP,NPWP (kalau ada) dan buku tabungan.

Kedua,mengisi formulir yang tersedia di perusahaan sekuritas (perusahaan yang menghubungkan nasabah/investor dengan pasar modal,biasa juga disebut dengan pialang/broker).

Ketiga, mentranferkan dana ke Rekening Dana Investor (RDI) atas nama nasabah sendiri yang telah didaftarkan oleh pihak sekuritas di bank yang ditunjuk.Jumlah transferan tergantung kebijakan setiap perusahaan sekuritas tetapi sekarang rata-rata hanya 100 ribu rupiah.

Keempat, investor siap berinvestasi dan memilih sendiri perusahaan/emiten mana yang layak untuk investasi.

Sampai saat ini perusahaan yang bergerak sebagai broker sebanyak 37 sekuritas yaitu,Indo Premier Securities,Mandiri Sekuritas,Samuel Sekuritas Indonesia,Daewoo Securities/PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia,Phillip Securities Indonesia,Sinarmas Sekuritas,Panin Sekuritas,CIMB Securities,Bahana Sekurities,BCA Sekuritas,BNI Sekuritas,Danareksa Sekuritas,Dhanawibawa Sekuritas Indonesia,Erdikha Elit Sekuritas,FAC Sekuritas Indonesia,Henan Putihrai Indonesia,Indosurya Bersinar Sekuritas,Jasa Utama Sekuritas,Kiwoom Sekuritas,Kresna Sekuritas,Maybank Kim Eng Securities,Mega Capital Sekuritas,Minna Padi Investama Sekuritas,MNC Sekuritas,NH Korindo Sekuritas Indonesia,NISP Sekuritas,OSO Securities,Pacific 2000 Sekuritas,Phintraco Sekuritas,Profindo Sekuritas Indonesia,Reliance Sekuritas Indonesia,RHB Sekuritas,Sucor Sekuritas,Trimegah Indonesia Sekuritas,Universal Broker Sekuritas Indonesia,UOB Kay Hian sekuritas,Valbury Sekuritas Indonesia.

Tips Menjadi Investor


1.Membeli perusahaan yang familiar produknya dan sering dikonsumsi oleh banyak orang.

2.Mempunyai prospek jangka panjang minimal 5 tahun ke depan.

3.Memiliki pertumbuhan yang bagus dan konsisten dalam beberapa tahun sebelumnya.

4.Belilah saham pada harga yang murah (tentunya setiap investor memiliki penilaian harga tersendiri/bersifat subjektif) dan jangan terpengaruh dengan euphoria para trader yang suka mencari capital gain.

 

Note:

Tulisan ini pernah diterbitkan di media Acehtrend
FURQAN
FURQAN Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Yuk Nabung Saham"