Manusia Dan Perubahan
Manusia selalu berubah, bukan? Memang benar, dari awal dilahirkan sampai kita meninggalkan dunia ini, kita akan terus berubah. Perubahan fisik adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan. Disamping itu sisi emotional manusia juga akan bertransfromasi mengikuti perubahan itu juga. Ibarat kata, setiap hari kita akan melakukan perubahan, entah sesuatu yang “must (wajib)” seperti perubahan karena bertambah usia, entah itu karena kita ingin mengubahnya seperti menambah atau mengurangi berat badan, makan lebih teratur dan sebagainya.
Secara psikologis pun, kita cenderung tidak puas dengan
sesuatu yang statis, kita selalu menginginkan perubahan dan itu semacam
tuntutan naluriah kita.
Sejauh ini saya mengamatinya bahwa perubahan itu bisa berupa
increasing (peningkatan) untuk becoming better atau decreasing (penurunan) untuk
becoming worsen. Tetapi pada akhirnya semua menginginkan ingin menjadi lebih
baik walaupun seiring perjalanan kesalahan menentukan keputusan tidak bisa di
elakkan, karena manusia begitu kompleks dan kebenaran itu sendiri selalu diapit
oleh ruang dan waktu.
Mungkin kita benar untuk memakan ikan di waktu A tetapi bisa
jadi sebuah kesalahan yang besar ketika kita memakan ikan di waktu B karena
hari itu kita mulai alergi dengan ikan. Waktu menjadi penentu kebenaran itu
sendiri. Bisa jadi kebiasaan memakan ikan menjadi salah karena kita terikat
dengan hukum social bahwa di hari itu ada larangan memakan ikan bagi penduduk
setempat.
Lalu jika perubahan itu sesuatu yang pasti, dan seakan-akan
dia terus bergerak tanpa menunggu, apakah kita akan terjebak dalam sebuah
dimensi yang terus menuntut perubahan? Sedangkan manusia juga tidak sesederhana
poin tulisan pertama diatas dimana manusia terus berubah dan secara naluriah
ingin perubahan? Maksudnya adalah terkadang manusia menginginkan hal-hal yang
statis seperti menginginkan umur bertambah tampa mengurangi Kesehatan, ketampanan
dan kecantikan, keamanan hidup, stabilitas dan sebagainya
Dari dua hal diatas seakan kita terjebak dalam dilemma akut,
terkadang kita menginginkan yang sangat paradox menginginkan A tanpa perlu
mengorbankan B, atau sekedar sesuatu berjalan dengan keinginan tetapi terkadang
juga ingin sesuatu berupa kejutan.
Sejauh ini saya menyimpulkan bahwa pada satu titik kehidupan
ada hal-hal statis yang harus dilakukan meski itu berupa kejenuhan, lalu
hal-hal berupa kejutan akan menjadi penghibur disela-sela kejenuhan. Tetapi
bukan berarti semua hal harus dijalani penuh kejutan, karena pada akhirnya kita
akan merasa hidup penuh dengan unpredictable (tak bisa di prediksi).
Lalu bagaimana dengan perubahan itu sendiri? Iya memang benar itu tidak bisa dielakkan, tetapi bukan berarti semua hal perlu di ubah dan disesuaikan, terkadang ada hal yang perlu dibiarkan tanpa ada intervensi yang berarti, seperti kita akan menua berikut dengan ciri-ciri lainnya dimana tubuh dan emosi akan melemah, tetapi kita bisa mempertahankan dengan kebiasaan baik dimata kita nantinya tidak mencapai titik destruktif, circle pertemenan yang berubah dan kita bisa melakukan sedikit perubahan dengan bagaimana kita merespon atau defensive yang menjaga diri kita dari kehancuran.

Posting Komentar untuk "Manusia Dan Perubahan"