Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Anthony Salim dan Julukan Eksekutif Bermesin Ferrari

Bagi pecinta dunia bisnis, nama Anthony Salim pasti tidaklah asing. Dia adalah pemilik Salim Group, konglomerasi bisnis yang menguasai berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Ia memiliki lebih dari 600 perusahaan, mulai dari pangan, pertambangan, perbankan, hingga transportasi.

Anthony Salim menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, bahkan pernah tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Konglomerasi bisnis yang dimilikinya tercatat sangat besar dan mengesankan. Walaupun demikian, bisa jadi jumlah perusahaan yang dimilikinya lebih banyak daripada yang tercatat.

Saya tertarik dengan Anthony Salim berawal dari pertanyaan: bagaimana Salim Group bisa terbentuk dan bagaimana kepiawaian Soedono Salim, pendiri Salim Group sekaligus ayah Anthony Salim, mengawali semua ini?

Liem Sioe Liong, atau yang lebih dikenali sebagai Soedono Salim di Indonesia, ialah seorang tokoh perniagaan terkenal Indonesia. Beliau dilahirkan pada 19 Juli 1916 dan meninggal dunia pada 10 Juni 2012.

Kisah ini sebenarnya bermula ketika gejolak politik di Cina membuat sejumlah penduduknya melakukan imigrasi ke negara lain. Soedono Salim merupakan salah satunya. Perjalanan selama sebulan membawanya ke Indonesia. Perjuangan yang begitu berat diawali dengan bekerja di perusahaan kerupuk hingga akhirnya ia sukses menjadi pengusaha cengkeh pada usia 25 tahun.

Dalam perjalanan bisnisnya, ia sempat menghadapi gangguan akibat kondisi politik dan keamanan di Indonesia yang kala itu sedang kacau. Namun, ia tidak menyerah. Ia sempat menjadi penyedia logistik bagi tentara Indonesia. Dari sinilah ia kemudian berkenalan dengan Soeharto.

Perkenalan itu akhirnya membawa Soedono Salim menjadi salah satu orang kepercayaan Soeharto dalam mengembangkan industri di Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir berbagai perusahaan seperti Indocement, Indofood, dan Indomobil.

Kedekatan dengan penguasa membuat konglomerasi bisnisnya menjadi semakin kuat. Ibarat simbiosis mutualisme, semua pihak diuntungkan, baik keluarga Soeharto, rakyat Indonesia, maupun Soedono Salim sendiri. Namun, di balik itu semua, pola seperti ini tetap memiliki kelemahan. Begitu rezim hancur, bisnis pun ikut terancam hancur.

Pada tahun 1998, Soeharto menghadapi puncak gejolak dalam negeri. Ia dilengserkan dan disusul dengan krisis ekonomi. Salim Group berada di ambang kehancuran.

Pada saat-saat genting seperti ini, banyak perusahaan milik Salim dirusak oleh massa, mulai dari Bank BCA sebelum diakuisisi oleh Djarum Group hingga Indomaret. Tak hanya itu, rumah pribadi dan aset keluarga Salim Group juga diburu oleh massa yang marah. Sebagian besar keluarga kemudian pindah ke Singapura, kecuali Anthony Salim.

Di ujung keruntuhan kerajaan bisnis Salim Group, Anthony Salim muncul sebagai penyelamat. Banyak perusahaan harus ia lepas di tengah krisis tersebut, contohnya BCA dan perusahaan-perusahaan lainnya.

Salah satu kehebatan Anthony Salim adalah jauh sebelum krisis terjadi, ia sudah memprediksi bahwa Salim Group memiliki kelemahan struktural yang harus dibenahi. Beberapa di antaranya adalah: pertama, bisnis adalah bisnis. Ia harus dikelola berdasarkan asas bisnis, bukan asas kekeluargaan, di mana seluruh anggota keluarga berhak mendapat amanah untuk mengurus bisnis tanpa mempertimbangkan kemampuan individual.

Hal ini terlihat ketika ia mengganti pamannya, Liem Soe Kong, dengan Mochtar Riady sebagai pimpinan BCA. Alasannya, sang paman dianggap terlalu konservatif, sedangkan Anthony membutuhkan seseorang yang lebih agresif.

Selanjutnya, ia mulai membangun kembali Salim Group dengan memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan membangun pasar yang lebih loyal. Dengan demikian, kekuatan Salim Group bukan hanya bertumpu pada kedekatan dengan kekuasaan, tetapi juga pada ketergantungan dan kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk yang dihasilkan. Jadi, ini merupakan fase ketika Salim Group mulai tampil lebih profesional.


Lalu, di mana letak kehebatan Anthony Salim?

Setelah puluhan tahun melakukan ekspansi bisnis dan membangun banyak perusahaan, faktanya ia sempat mendirikan perusahaan di luar negeri yang bernama First Pacific, yang berlokasi di Filipina. Perusahaan tersebut didirikan bersama rekannya, Manuel V. Pangilinan.

Perusahaan investasi inilah yang kemudian membantu menyelamatkan Salim Group dari kehancuran. First Pacific sudah lebih dahulu beroperasi dan memiliki beberapa perusahaan di bidang telekomunikasi dan sektor lainnya di Filipina dan Asia.

Jurus terakhir ini membuat Anthony Salim bagaikan naga yang tak pernah kehabisan kekuatan, walaupun nasib bisnisnya sempat berada di ujung tanduk. Bahkan, beberapa jurnalis menyebutnya sebagai “eksekutif bermesin Ferrari". Hanya dalam beberapa tahun, ia mampu bangkit dan kembali ke deretan konglomerat besar Indonesia.


Reference :

https://en.wikipedia.org/wiki/First_Pacific

https://www.suara.com/bisnis/2026/01/28/065500/profil-anthony-salim-konglomerat-salim-group-penguasa-semua-sektor-di-indonesia?page=2

https://id.wikipedia.org/wiki/Sudono_Salim

https://www.idxchannel.com/market-news/jejak-salim-di-bca-dari-bank-keluarga-hingga-tersisa-1-persen-saham/4

https://bisnis.espos.id/nyaris-bangkrut-karena-moneter-bisnis-salim-group-kini-kian-menggurita-1366080



FURQAN
FURQAN Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Anthony Salim dan Julukan Eksekutif Bermesin Ferrari"