Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertualangan Berbuka Puasa Yang Ramah Lingkungan

Matahari sedang menuju titik suhu ketampanannya pada pagi itu. Saya bermodalkan sepasang baju kaos dan celana kain, ditemani motor beat menuju kerumah Mursyid Asia ( Asia adalah nama keren yang disematkan sebagai harapan dapat mewarnai Asia). Sesampai di rumah, saya menelpon Mursyid dan mengabari bahwa saya sudah sampai di depan rumah, lalu dia keluar dan mengajak saya masuk ke rumahnya. Sembari menunggu dia mengganti baju dan membuat persiapan kecil, saya melihat pemandangan di luar rumah yang menurut saya sangat luar biasa. Pertama ada deretan bunga tepat di samping pintu masuk rumah, bunga tersebut beraneka ragam warna nya, ditambah rak bunga dan pot yang sama-sama bewarna putih. Saya jadi  teringat warna gedung putih Amerika serikat.

Pemandangan kedua, ada beberapa ibu-ibu yang sedang membersihkan kelapa, dan dibelah, lalu dimasukkan ke kotak dengan perkiraan ukuran 1,5 m x 4 m. Setau saya itu adalah proses awal dari pembuatan pliek- bahasa Aceh, dalam bahasa Indonesia disebut pantarana. Kelapa yang sudah diperam lalu dijemur nantinya digunakan sebagai bumbu masak kuah pliek, makanan khas Aceh dimana selalu meninggalkan kenangan manis kami masyarakat Aceh . Dan saya juga melihat beberapa tempat penjemuran pliek dan jerigen berisi minyak pliek atau minyak kelapa.

Begitu Mursyid have allready to go, dia mengajak saya untuk mengecek doorsmernya atau tempat pencucian motor dan mobil yang tidak jauh dari rumah. Di sana perhatian saya tertuju pada sistem pembuangan, dimana air setelah dipakai mencuci motor atau mobil langsung dibuang ke area resapan di belakang doorsmer. Nah saya mengusulkan bagaimana kalau doorsmers ini diberikan sedikit sentuhan ala pecinta lingkungan, yaitu air setelah dipakai mencuci selanjutnya di tampung dan di sterilkan beberapa waktu dengan pemakaian beberapa batok kelapa dan ijuk setidaknya air sisa pemakaian tersebut bisa digunakan kembali untuk pencucian mobil tahap awal. Ya saya berharap dapat menekan pemakaian air bersih dari sumur bor dengan adanya water recycle ini. Sebenarnya saya tidak terlalu paham apakah proses penyulingan air itu efektif untuk dilakukan, tetapi setidaknya kita sudah memulai memikirkan ke arah sana, untuk penyempurnaan bisa kita konsultasi ke ahli hidrologi. 

Selain itu saya baru tahu, ternyata minyak kelapa atau minyeuk pliek bisa digunakan untuk penyemprotan pengganti solar pada bagian yang mengandung besi di motor dan mobil seperti bagian bawah motor, dan mobil. Mursyid bilang kita juga memiliki beberapa pelanggan yang meminta penyemprotan anti karat di bagian bawah motor atau mobil harus menggunakan minyak kelapa.  Dia menambahkan cuma minyeuk pliek tidak semua orang menyukai aromanya yang sedikit menyengat, tetapi menurutnya minyeuk pliek lebih bagus ketimbang pemakaian solar.
Penemuan langka ini saya rasa perlu di tulis dan dipublikasi karena minyeuk pliek lebih ramah lingkungan dibanding solar hasil ekstraksi. Apalagi Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, yang terletak di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh ini  juga memiliki beberapa usaha home industry pengolahan pliek dan minyak kelapa. Efek ekonomi lainnya mampu meningkatkan kesejahteraan pemilik dan karyawan pengolah minyak kelapa.Dan juga masyarakat yang memiliki pohon kelapa akan lebih sejahtera dan mau merawat kebun kelapanya.

Sambil berbincang tentang minyak kelapa, dia mengabari saya bahwa mesin kompresornya  rusak, akibatnya saat mesin dihidupkan banyak air yang keluar melalui kompresor, ini menandakan bahwa kompresor perlu di perbaiki terlebih dahulu. Dengan gesitnya dia mencoba memperbaikinya, segala perkakas dikeluarkan, alhasil tidak bisa juga.

Setelah kita berdiskusi, lalu kita sepakat untuk membawanya ke bengkel khusus mesin kompresor. Lalu kami mencoba melepaskan beberapa baut yang sangat susah dilepas. Mungkin efek dari baut yang sudah lama terendam lalu berkarat. Kita bergantian mengadu ilmu Kanuragan (wkwkwkww) sampai tangan saya beberapa kali beradu dengan si besi tua. Sayangnya saya tidaklah kebal jadi beberapa goresan sedikit dalam terlihat menganga begitu saja tanpa obat antiseptic. Semoga lukanya cepat sembuh ujar saya dalam hati.

Singkatnya dengan beberapa trik, si kompresor berhasil dilepas dengan selamat tanpa cacat walaupun kita babak belur dihajar oleh si mesin tua itu. Kita membawanya ke bengkel lalu menitip pesan bahwa kompresor akan kami ambil besok paginya setelah kembali dari kebun. Nah disinilah pertualangan sesungguhnya di mulai.

Jam sudah menunjukan pukul 13.05 Wib. Kami  membeli ayam 1/2 ekor  ditambah bumbu lalu meluncur dengan sangat cepat ke TKP ( Kebun ). Dikarenakan saya sudah beberapa minggu memiliki rutinitas menggembala kambing, jadi tidak boleh terlambat. Karena kambing tidak mentolerir keterlambatan saya, jam makan sudah tiba mereka harus segera merumput.

Sebelum kekebun kami singgah dulu di rumah, dan menyimpan daging ayam di kulkas. Saya mengatakan kepada Mursyid kita solat dikebun saja, karena disana ada perlengkapan solat juga. lebih cepat sampai ke kebun setidaknya si kambing tahu bahwa saya peduli dengan jam makan mereka. Biasanya saya memulai menggembala antara  jam 13.00 wib dan jam 14.00 wib.

Menurut masyarakat sekitar, saya harus menjaga jam makan mereka, supaya kambingnya akrab dan nurut terhadap penggembala. Jika jam makan dijaga, tempat tidur/kandang ditambah pembakaran api supaya mereka hangat, insya Allah selain kambingnya jadi lebih penurut juga lebih berkah karena tidak teraturnya jam makan juga berarti kita menyiksa mereka akhirnya si kambing tidak bakal sehat dan kuat.

Di kebun kami solat Zhuhur dan rebahan selama 20 menit dan begitu tepat jam 14.00 Wib saya sudah siap dengan pakaian gembala lengkap dengan kayu kecil dan topi pelindung dari sengatan matahari.  Well, kambing dilepas, saya mengarahkan mereka ke kebun bagian  timur karena disana masih banyak rumput yang perlu di bersihkan. Kebetulan kami memanfaatkan tenaga si kambing untuk membersihkan rumput di kebun, jika dulunya menghabiskan jutaan untuk pembersihan dari rumput sekarang kami cuma tinggal mengarahkan si kambing di bagian mana perlu dibersihkan, kambingnya sehat dan kuat, pengeluaran uang untuk pembersihan ditiadakan, dan pengelolaan  kebun juga lebih ramah lingkungan karena tidak memakai herbisida disamping si kambing secara tidak langsung sudah menjadi mesin pupuk berjalan, mereka berjalan sambil mengeluarkan kotoran dan kencing nantinya menjadi pupuk juga.

Begitu kambing sudah agak jauh dari kandangnya, saya mengajak Mursyid ke bagian  kebun yang lebih tinggi, selain untuk melihat pemdangan yang bagus disana juga lebih cepat akses internetnya. Jaringan 4G dengan kekuatan  penuh siap menemani kami sambil menggembala kambing.  

Saya menceritakan beberapa komoditas yang bagus untuk dikembangkan, seperti pinang dengan waktu produksi yang lama bahkan melebihi kelapa sawit, sirsak juga memiliki nilai jual yang tinggi sampai dengan budidaya maggot sebagai solusi pakan ayam, Bebek dan ikan juga sebagai solusi dari banyaknya sampah organik dari rumah tangga. 

Sebelum hujan menutup agenda menggembala kambing, saya dan Mursyid sempat mengambil beberapa video dengan objek pohon pala, apalagi banyak pala yang harus segera dipanen, dia mengusulkan liburan sambil panen pala dan mengajak beberapa teman lainnya di waktu yang lain, dia juga mengusulkan dalam waktu dekat kita bisa mengadakan acara sehari tanpa android.

Menurutnya acara ini sebagai solusi supaya anak-anak muda melatih untuk tidak terlalu candu dan menghabiskan waktu dengan android, acara itu nantinya akan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat seperti belajar tentang pala dan cara memanennya.

Suara khas kambing beriringan dengan suara  hujan, kami duduk di rumah kecil 3m x 5m itu, melihat kambing dari atas bukit menuju kandang tempat berteduh. Ada yang dengan santainya jalan ditengah derasnya hujan, ada yang lari secepat roket tanpa ada kata ngerem, ada yang melanjutkan merumput tanpa menggubris adanya hujan, perilaku seperti ini terkadang menandakan bahwa kambing masih sanggup menuntaskan makan sorenya. 

Tidak lama kemudian, kambing semuanya memasuki kandang, berbaris rapi dekat tungku api, menunggu dihidupkan api sebagai penghangat tubuh. begitu api dihidupkan beberapa kambing tanpa komando  mencoba merapatkan barisan mengelilingi api. Kambing kecil / anakan kambing langsung menyenderkan badan ke tungku api dan yang besar/indukan kambing berbaris rapi dengan kepala sedikit menunduk.

Ditengah derasnya hujan saya mengabari pak Arifin bahwa kita ready berbuka puasa di kebun dengan salah satu agenda andalan yaitu bakar ayam. Sorenya tepat jam 17.27 Wib, Pak Arifin berangkat dari rumah menuju ke rumah saya, kita sepakat titik kumpul di rumah saya, apalagi banyak perlengkapan yang belum  dibawa karena dari tadi hujan. Saya dengan Mursyid langsung bergegas kembali rumah saya, dan sesampai di sana Pak Arifin sudah lengkap dengan baju tempur (mantel hujan). 

Kami membeli air mineral, kecap manis, kecap asin, untuk tomat, cabai, tempe dan bawang, juga piring dan sendok  saya mengambil dari dapur. Berhubung jam berbuka tinggal 15 menit lagi, untuk menu berbuka saya siasati dengan membawa nasi, kuah, tempe goreng dan ikan dari rumah. 

Setelah itu kami segera bergegas menuju kebun dengan kecepatan tinggi, disepanjang jalan ada kami disambut hujan gerimis, beberpa suara petir tak luput serta udara yang makin  dingin saja. Tak heran kamisemua memakai jaket tebal agar tak masuk angin.

Sebelah kanan jalan hamparan sawah mulai  digenangi air, sedangkan sebelah kanan air mengalir dengan derasnya, dibeberapa titik terlihat air  memenuhi saluran pembuangan di lereng bukit.  Pemandangan ini membuat adrenalin semakin terpacu dan sesekali terbesit dalam hati alangkah indahnya pesona hujan sore ini.

Walaupun kami tahu, jika intensitas hujan lebih tinggi, bukan tidak mungkin akan banjir. Soalnya banyak pohon besar yang sudah di tebang dan diganti dengan sawit misalnya. Kami terus berpacu dengan waktu supaya tiba di kebun  sebelum sirine berbunyi. Tepat 100 meter dari rumah tempat kami menginap nantinya, jalan masuk sudah tergenangi air dan parahnya ternyata jalan yang biasa kami lewati  itu mengalir air yang lumayan banyak.

Dengan modal tekad yang kuat dan harus berani sedikit kotor, kami menerobos jalan tersebut. 3 menit lagi menuju waktu iftar,  bukan saatnya lagi menghabiskan waktu untuk ragu-ragu. 
Saya yang awalnya mengendarai motor, meminta Mursyid untuk membantu melewati jalanan penuh lumpur tersebut. Sedangkan saya membawa satu galon air berisi 19 liter. 

Nah ini merupakan perjalanan 3 menit yang menyita kekuatan yang luar biasa, adrenalin kami cukup terpacu, sesekali Mursyid bergaya bak seorang yang sedang mengikuti olimpiade motor cross, suara mesin lebih besar, ban puluhan kali harus berputar di tempat, saking pekatnya lumpur. Pak Arifin juga tak kalah tangguh, beberapa kali harus turun mendorong motornya. Setidaknya ini perjalanan 100 meter yang harus dibarengin ketrampilan membaca area jalan yang harus di lewati, ketrampilan mengendara di jalan yang sedikit berlumpur, melatih kesabaran, mengadu kecepatan, membutuhkan decision making yang cepat, kaetahana tubuh membawa 1 galon air ditengah jalan berlumpur, belum lagi menyiasati sendal yang sesekali menyatu dengan lumpur, Jangankan untuk bergerak, untuk menjaga keseimbangan saat terjebak dilumpur saja susah.

Akhirnya kami semua berhasil melewati tantangan terakhir. Motor berhasil diparkir di depan rumah, semua perlengkapan berhasil di bawa. Begitu kami selesai memindahkan barang ke rumah, suara azan terdengar, rupanya kami melewati suara sirine saat asik  ngobrol dan saling bertukar cerita bagaimana tangguhnya kami melewati jalan berlumpur.
Kami berbuka dengan segalas air, ditemani nasi dan keumamah teu peuleumak (Kuah lemak ikan kayu ), tempe goreng sebagai protein nabati. Tak menunggu lama kami hanya menyisakan kuah dan satu ikan lagi untuk makan ronde kedua nantinya.

Sambil makan dan mengantri solat magrib kami bercerita tentang kelulut, kebetulan Mursyid belum tahu tentang prospek kelulut. Lebah mungil itu bisa menghasilkan madu terbaik dengan harga lebih mahal. Selain itu kebanyakan sarangnya dibakar karena dianggap hewan pengganggu oleh masyarakat. Jadi beternak kelulut juga termasuk upaya menyelamatkan populasi kelulut dari tindakan manusia yang kurang bersahabat.

Setelah semuanya solat magrib, kita berbagi tugas. Pak Arifin dan Mursyid membuat kotak sebagai rumah baru kelulut dan saya bertugas memasak nasi dan menyiapkan ayam bakar. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari kayu, paku, meteran  dan martir. Setelah semuanya terkumpul kotak dibangun dengan ukuran lantai  35 cm x 20 cm x 18 cm. Papan dari kayu sengon itu di potong dengan ukuran 35 cm sebanyak 3 lembar dimana satu lembar untuk lantai dan dua lainnya sebagai dinding, lalu ukuran 20 cm sebagai dinding juga. Untuk bagian atap nantinya dipakai plastik dan triplek. Semuanya di paku dengan sekrup sehingga jadilah kotak. 

Sedangkan saya yang bertugas memasak, langkah awal yang saya lakukan adalah mencuci perlengkapan memasak. Wajan, sendok dan tempat memasak nasi. Merendam dengan air terlebih dahulu untuk memudahkan mencuci. Nah disini kendalanya, sabun cuci piring ternyata habis, saya memutar otak bagaimana caranya bersih tetapi tanpa sabun. Saya teringat pelajara  ketika SMA dulu bahwa untuk menghilangkan lemak kita butuh lemak nabati, untuk itu saya memilih dan indigofera. Daun ini termasuk jenis legum yang digunakan sebagai pakan kambing. Kandungan protein yang tinggi menjadin daun ini sebagai primadona di kalangan peternak.

Saya mengambil beberapa tangkai, lalu eksperimen dimulai. Wajan yang penuh lemak nabati perlahan-lahan hilang dan menjadi bersih juga terdapat aroma khas daun indigofera yang sedikit berbau kacang-kacangan. Disini saya menyimpulkan bahwa ini bisa digunakan sebagai pengganti sabun dikala darurat atau bahkan jika selanjutnya saya menemukan penelitian yang menunjukkan penggunaan daun indigofera bagus sebagai sabun, maka saya akan terus menggunakannya. 

Nah yang patut disadari, pengunaan daun sebagai sabun pencuci piring bukan baru pertama kali dilakukan oleh masyarakat kita. Di desa saya dan sering saya temui di berbagai desa yang saya kunjungi saat ada acara pernikahan. Daun belimbing sengaja dimasukkan kedalam air, lalu gelas yang sudah digunakan oleh tamu, diambil dan dimasukkan ke air yang ada daun belimbing. Lalu gelas di gosok dengan diam belimbing sampai bersih, setelah itu baru diletakkan kembali di meja tempat pengisian air minum. Ini salah satu contoh penggunaan Daun sebagai sabun cuci piring. 

Peralatan memasak sudah bersih, kemudian saya melanjutkan untuk memasak nasi dengan kompor gas. Karena cuaca sedang hujan dan banyak kayu yang basah terpaksa kita menggunakan kompor gas.

Daging ayam saya rebus dengan rempah baru kemudian kita panggang. Sebelum dipanggang saya mencincang halus tomat, bawang dan cabai nantinya tinggal ditambahkan kecap. 

Hujan masih belum reda, kayu masih basah, sedangkan arang untuk membakar ayam tidak ada juga ditambah alat penjepit/ panggang tidak ada. Lalu bagaimana solusinya?

Bersyukur sempat pernah menikmati  hidup di jaman yang menggunakan pelepah kelapa sebagai penjepit atau panggang. Langsung saya memotong pelepah kelapa dari pohon yang baru saja ditebang karena takut tumbang jika terjadi hujan badai.

Pak Arifin dengan gegasnya membentuk pelepah kelapa menjadi panggang ala anak Pramuka. Kedua sisi pelepah di bersihkan dan bagian tengah dibelah dari ujung sampai kira-kira menyisakan 1/5 bagian yang dijaga tetap utuh. Langkah selanjutnya kami memasukkan ayam kedalam panggang dan ujungnya panggang di ikat menggunakan tali.

Permasalahannya belum juga selesai. Saya harus mencari kayu untuk dibakar. Tidak lama kemudian saya melihat satu log kayu Jabon yang tidak terbakar sempurna, dengan asap yang masih mengepul tepatnya didalam drum pembakaran kayu, dimana bisanya saya gunakan untuk menghangatkan kambing . Lalu saya mengambilnya untuk dibawa ke rumah, dan  mengambil seng sebagai alas agar lantai kayu rumah tidak terbakar. 

Barulah pemanggangan di mulai. Semuanya ketawa dengan nada 1/2 pasrah. Apakah kita bener-bener akan mencicipi ayam bakar? "Pungkas Pak Arifin sambil tertawa panjang."

Sambil mengipas ayam saya mengatakan bahwa malam ini kita akan makan ayam bakar dan akan menjadi salah satu moment terbaik sepanjang hidup. Untuk meyakinkan sesekali saya mengatakan bahwa "kalau ini di Eropa atau di Amerika mereka akan membayar mahal untuk malam ini, soalnya ini sangat memacu adrenalin" saya melanjutkan mencoba memberikan semangat bahwa apa yang terjadi malam ini (lupa membeli arang dan membawa panggang) adalah anugerah terbesar yang harus disyukuri. Karena sangat jarang kita bisa menikmati moment seperti ini. Mursyid juga tak kalah usilnya walaupun dia tetap mengipas bara log kayu Jabon, tetap memberikan joke hangatnya.

"Rupanya bukan hanya ayamnya saja yang bakal terpanggang, sarung saya juga terasa hangat" sambil ketawa menggambarkan hangatnya bara api dari log kayu jabon.

Sesekali saya dan Mursyid mengeluarkan Cakra seperti dalam film Avatar, memberikan beberapa hembusan agar bara api tetap menyala. Mursyid juga berusaha meletakkan beberapa robekan kardus agar bagian log kayu yang belum terbakar bisa terbakar dengan sempurna.

Tidak ada kata menyerah hampir satu jam kami mengipas si ayam panggang berharap dia kan cepat bisa di eksekusi. Faktanya baru matang sekitar 50 persen saja.

Kami tetap juga bersikukuh, malam ini daging ayam harus dipanggang tidak ada istilah digoreng. Teman saya Mursyid meminta agar papan penutup lantai rumah dipotong sedikit agar bara api makin banyak, jika mengandalkan log kayu, pasti akan memakan waktu yang lebih lama.

"Furqan ambil aja sedikit papan lantai rumahnya, biar cepat matang"

Lalu saya mencoba mengikhlaskan papan lantai kayu sepanjang 1 meter tersebut. Mulailah saya menggergaji menjadi bagian kecil. Mursyid merobek kardus menjadi bebepa bagian, lalu diletakkan dekat bara api, baru ditambahkan papan yang saya gergaji tadi.



Hanya menunggu 5 menit kayu sudah menjadi bara api yang bagus untuk pembakaran si daging ayam. Kami melanjutkan memanggang,  sembari memberikan kecap diatas daging ayam supaya lebih nikmat.

Daging Ayam Yang Sedang Dipanggang

Aromanya mulai membangkitkan selera, saya, mursyid dan Pak Arifin semacam sudah terbius dengan sedapnya si ayam panggang. Mursyid dengan gaya otoriternya mengatakan bahwa ayam ini matang berkat saya dan saya juga tidak mau menerima pernyataan seperti itu, karena pada awalnya saya mengusulkan papan lantai rumah dijadikan arang cuma ditolak karena alasan kurang logis, tetapi kemudian malah digunakan juga ide tersebut. Supaya adil saya saya mengatakan bahwa ayam panggang ini hasil dari usaha kita bertiga.

Ayam panggang dengan rasa perjuangan yang lumayan berat berhasil di hidangkan. Semuanya menyantap tanpa ada sisa. Ayam panggang rasa perjuangan ditambah manisnya kecap dan segarnya tomat bawang cabai membuat semuanya terbayarkan. 

Dari sini ada pelajaran yang bisa kami ambil.  Bahwa apapun yang kita kerjakan harus lebih dulu memunculkan rasa optimis akan keberhasilan. Jika kami semua menyerah karena keadaan, maka ayam panggang takkan pernah kami cicipi malam itu. Setelah rasa optimis akan berhasil, kita terus saja mencari cara atau solusi, mencoba dengan beberapa ide walaupun tidak sepenuhnya berhasil atau membutuhkan waktu lama seperti pemakaian bara api dari log kayu Jabon tetapi setelah mengalami observasi dan perenungan, kita akhirnya menemukan cara memanggang dengan lebih cepat.

Kehidupan ini juga begitu, ketika kita dihadapkan dengan keadaan yang sulit. Janganlah menyerah, tetaplah berjalan walaupun solusi belum terlihat. Karena akan ada saatnya kita menemukan solusi. Bersabar dan terus berjuang itu adalah harga yang harus dibayar  dari sebuah solusi yang kita dapat nantinya. 

Tak ayal jika saya setuju jika ada yang mengatakan nothing free lunch, Tidak ada makan siang gratis , dalam konteks cerita diatas menunjukkan demikian walaupun tidak berbau lembaran uang tetapi beraroma keringat dan letupan semangat.

Demikian kisah petualangan kami hari ini, semoga bermanfaat.
Furqan  Jamali
Furqan Jamali Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Pertualangan Berbuka Puasa Yang Ramah Lingkungan"

Berlangganan via Email