Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Covid 19 Mengajarkan Kita Cerdas Finansial

Credit to Jeremy Stenuit (unsplash)

Ditengah merebaknya Covid 19, sektor ekonomi mendapat perhatian penting bagi banyak kalangan. Bahkan perdebatan antara mereka yang pro kesehatan dan ekonomi sangat sering muncul di media mainstream.

Ada yang beranggapan membatasi ruang gerak lebih penting untuk menjaga penyebaran Covid 19 yang kian mengkhawatirkan. Sebagian lagi beranggapan bahwa tanpa perputaran ekonomi, tidak ada kehidupan. Analogi singkatnya kita hidup butuh makan dan makanan sendiri didapat dari transaksi rupiah. Tanpa bekerja tidak ada makanan. Ini bukan dunia yang serba gratis jika ingin tetap hidup tetap bekerja adalah solusinya.


Yang sangat menyakitkan ketika kita harus menerima kenyataan tidak kurang dari  2 juta orang sudah dirumahkan dan di PHK. Ini data per 20 April 2020 yang dirilis oleh Kementrian Ketenagakerjaan. Jumlah tersebut akan bertambah seiiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Prediksi paling berat kita akan menuju angka 5 juta orang.


Walaupun demikian kita tidak boleh terus- menerus bersedih hati, setiap badai pasti akan berlalu. Ini adalah salah satu siklus kehidupan yang akan terus kita hadapi. Kenapa demikian, sejarah memang sudah mencatat siklus ekonomi tidaklah selalu menanjak dengan serapan tenaga kerja yang tinggi, terkadang harus turun sangat dalam, sebut saja krisis moneter  ditahun 1998,  subprime morgatge tahun 2008 dan tahun 2018, walaupun  ada beberapa ekonom dunia mengatakan bahwa krisis akibat pandemi Covid 19 adalah yang paling buruk sepanjang sejarah.

Nah, sebenarnya krisis akibat Covid 19 ini mengajarkan kita banyak hal, salah satunya bagaimana cara mengatur keuangan kedepannya. Berikut pandangan saya.

Pertama, mengutip salah satu falsafah hidup kami yang dalam bahasa Aceh disebutkan "wate na taingat keu hana" artinya ketika kita dilapangkan rezeki kita harus mengingat saat masa sulit. Disini kita diajarkan untuk hidup hemat tidak menghambur-hamburkan uang, meningkatnya pendapatan bukan untuk meningkatkan gaya hidup tetapi digunakan sebagai tabungan dan investasi. 


Sumber Gambar Adeolu Eletu (Unsplash)


Tabungan digunakan sebagai uang jaga-jaga ketika sakit, kebutuhan sekolah yang dadakan, dan pengeluaran lainnya diluar prediksi. Sedangkan investasi bisa berupa membeli tanah, emas, valas, saham, obligasi, properti dan jangan lupa untuk membeli buku, mengikut seminar yang bermanfaat dan sebagainya.

Jadi ketika pendapatan lancar kebutuhan hidup tetap Sama sedangkan porsi untuk tabungan dan investasi diperbesar.

Karena jika tidak demikian kita akan sangat kalang-kabut ketika terjadi PHK mendadak. Apalagi yang hidupnya dipenuhi dengan cicilan  rumah, mobil, motor bahkan gadget sekalipun. 


Oleh karena itu, mulai saat ini jika kita memiliki kebiasaan yang buruk segera berubah, kita harus belajar dari sejarah, jika hari ini ekonomi keluarga kita hancur karena hal demikian, usahakan dikehidupan selanjutnya tidak melakukan hal yang sama. Ini juga harus diwanti-wanti sampai ke anak cucu kita.

So, bijaklah dan jangan lupakan siklus sejarah.



Kedua, ketika pandemi terjadi, daya beli melemah, mobilisasi pangan juga sedikit terhambat, dengan demikian sudah seharusnya kita mengambil pelajaran bahwa sesuatu yang tidak kita kuasai atau tanam sendiri sangat rentan kekurangan pasokan pangan untuk keluarga kita tercinta. 

Sumber Gambar Zoe Schaeffer (Unsplash)


Seandainya pun banyak barang yang tersedia di pasar, kita juga sangat was-was untuk keluar berbelanja. Bukan hal yang aneh jika setelah balik dari pasar, rasa was-was makin membesar ketika badan terasa kurang nyaman apalagi sampai gejala demam, pasti kita sangat ketakutan.

Nah sekarang sudah saatnya kita memanfatkan perkarangan rumah sebagai sumber pangan kita, kita bisa menanam beberapa batang cabe, bawang, kunyit, dan jahe, sayur-sayuran dan sebagainya sesuai dengan luas lahan yang kita punya. 

Zaman sekarang untuk menanam bukanlah hal yang sulit, dan tidak harus bergelar sarjana pertanian baru kita menanam. Banyak tutorial di YouTube, google, atau bisajuga memabeli buku. Dan tekniknya sangat beragam dari yang   cara konvensional, hidroponik, aquaponik, bisa dilahan datar atau vertikal. Semuanya sangat mudah jika kita mau memulai.  

Dengan menanam sendiri kita bisa memastikan kesehatan hasil panennya. Tidak menggunakan pupuk kimia, tidak menggunakan pestisida tetapi memanfaatkan limbah dapur sebagai pupuk organik, jika perlu beli sedikit pupuk organik yang ramah lingkungan. Semuanya akan sehat dan asupan nutrisi keluarga lebih terjamin.

Dengan demikian kita sudah memulai mengurangi ketergantungan kepada pasar yang berlebihan, setidaknya 30 persen bisa kita penuhi sendiri. Dan kita juga telah menghemat beberapa persen dari yang seharusnya digunakan membeli kebutuhan dipasar.

Alih-alih membeli kebutuhan dapur mending kita membeli kebutuhan menanam seperti media tanam, pupuk kalau perlu, bibit tanaman,  lalu kita tanam sendiri dan bisa dipanen setiap hari. 

Tidak ada biaya transportasi ke pasar, tidak ada biaya parkiran, tidak ada waktu yang terbuang untuk keliling di pasar, tidak ada biaya  make  over yang terbuang hanya karena ke pasar, tidak ada biaya penyusutan mobil atau motor karena ke pasar, tidak biaya maintainance karena ke pasar. Secara keseluruhan jika dikalkulasi sangat menguntungkan jika kita menanam sendiri. 

Intinya secara  secara keuangan lebih hemat dan secara kesehatan lebih higenis, dan kita juga tidak terlalu khawatir jika pasokan dari pasar sedang kosong, karena kita punya stok dikebun sendiri.
Furqan  Jamali
Furqan Jamali Hobi menanam dan beternak secara organik. Berkeinginan mewujudkan sistem ekonomi yang berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Covid 19 Mengajarkan Kita Cerdas Finansial"

Berlangganan via Email